[Oneshot] Dont worry my boy

dont worry my boy with psd

Judul: Don’t  worry my boy

Author: Kinantikk web: Kffiction.wordpress.com

Genre: Family,Sad

Length : Oneshot 3.036

Abstrak cerita : “aku hanya butuh beberapa waktumu ayah” –Kim jong in

Summary:  Tak ada yang mampu membeli Waktu, Kasih sayang, dan kebersamaan. Lakukan sekarang selagi kau masih hidup, lakukan sekarang selagi ia masih mencintaimu, lakukan sekarang selagi ia masih membutuhkanmu, atau mungkin kau akan menyesal nantinya.

Author Notes: Happy reading, don’t forget comment and be nice RCLJ

Poster by: jungstyleart web: kffiction.wordpress.com [Order your own poster]

Bab I

Ha ra mengambil secangkir teh hangat sambil duduk dan berbicara dengan suaminya Kim Sam “suamiku, apakah kau akan mendapatkan pekerjaan baru? Uang untuk membeli susu untuk anakmu sudah habis, sekarang Kai sangat kelaparan, sedari tadi ia menangis, dan aku baru saja berhasil menidurinya” ujar Ha ra.

Sam hanya duduk terdiam sambil membubuhkan tinta pena ke kertas kerjanya, ia berhenti sejenak, munculah senyum hangat yang terlukis di wajahnya

“aku masih punya sedikit uang, mungkin hari ini aku akan pergi mencari pekerjaan, dan aku masih memiliki uang simpanan di celengan ayamku kau bisa memecahkannya untuk membeli susu untuk Kai” ucap Sam Sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil jaketnya.

“kau mau kemana?” Tanya Ha ra, ia pun ikut beranjak dari tempat duduknya,

“aku akan mencari pekerjaan baru, dengan ilmu arsitekturku seharusnya aku pantas mendapatkan pekerjaan yang layak” ujarnya, mungkin tak mudah untuk menjadi ayah muda bagi Sam, sementara umur Sam baru menginjak 24 tahun sedangkan umur Ha ra 22 tahun.

“aku akan mendoakan mu dari sini” ujar Ha ra, Sam pun memeluk Ha ra sembari berkata

“jaga Kai, aku akan pulang nanti malam dengan membawa kabar gembira untuk kalian berdua” ucapnya lalu mencium kening istrinya

“semoga kau berhasil Sam” ucap Ha ra lalu mencium tangan suaminya

“ya, kau tak usah khawatir, ingat pesanku, oke?” ucap Sam, lalu ia pun pergi meninggalkan Kai dan Ha ra. Malam pun tiba, tapi Sam belom juga pulang, sambil menggendong Kai, Ha ra bergegas keluar dan berencana untuk menunggu suaminya pulang di halaman luar rumah, sedari tadi Kai terus menatap ke langit anak berusia satu tahun itu memang penuh dengan rasa keingin tahuan yang tinggi, kadang ia tertawa bila mendengar bunyi jangkrik yang membuat nada tersendiri, Ha ra berfikir bahwa nantinya Kai akan menjadi seorang idola.

Ckreek pintu pagar pun berbunyi, Sam berjalan menghampiri istrinya lalu mencium kening istrinya dan mencium pipi anaknya, lalu Sam pun merangkul Ha ra dan berjalan memasuki rumah kecilnya itu, Sam bercerita banyak tentang hari ini

“Aku di terima di perusahaan Newhouse corp, hanya menjadi asisten arsitek sih, tapi aku tetap bisa naik pangkat menjadi arsitek, tadi aku berhasil wawancara, dan semua juri terpukau kepadaku,hahaha” ucapnya disertai tawa ringan, Kai pun ikut tertawa, akhirnya mereka bertiga tertawa beriringan. Betapa bahagianya mereka pada malam itu, menjadi malam yang tak terlupakan bagi Sam dan keluarganya.

2 tahun kemudian

Kai menghampiri ayahnya yang berada di ruang kerja, ia mulai memasuki ruang kerja yang cukup besar melebihi kamarnya sendiri, Kai sudah bisa berjalan dan berbicara, Kai memang cepat belajar karena ia anak yang penurut dan anak yang selalu ceria.

“ Ayah” panggilnya, Sam hanya sekedar menoleh ke arahnya

“ tadi aku bermain bola dengan hyung-hyung di luar sana, aku bisa menendang bola” ujar kai kecil bercerita dengan penuh semangat

“tetapi aku gak di kasih permen sama hyung-hyung itu” ujarnya kesal  sambil mengerucutkan bibirnya, Sam tidak meresponnya, ia hanya tetap terpaku pada layar laptopnya sambil menulis sesuatu. Dengan penuh penasaran Kai menghampirinya dan menarik tangan ayahnya itu,

“Ayah, ibu sudah mengajalkanku belbicala dan beldili, bahkan ia yang mengajaliku untuk bisa mengucapkan namamu, dan memanggilmu, maukah ayah mengajaliku menulis? Walaupun aku akan belajal menulis sewaktu taman kanak- kanak nanti, tapi aku ingin ayah mengajaliku sekalang, aku ingin menjadi anak yang pintal sepelti ayah” ucapnya dengan nada seperti bocah seusianya, sambil terbata-bata, Sam pun langsung menatapnya dengan tatapan hangat

“ kau hanya cukup belajar untuk mengucapkan huruf R terlebih dahulu” ucapnya lalu langsung memalingkan wajahnya ke layar laptop, Kai pun langsung bergegas pergi dan menemui ibunya, Ha ra berdiri sambil memasak di dapur, sedangkan Kai mencoba untuk duduk di kursi makan miliknya.

“ibu sangat pandai memasak, ibu bisa ajalkan aku memasak saat aku sudah besal nanti kan? Saat aku sudah lebih tinggi dali kompol itu” ujarnya diiringi tertawa ceria

“hahaha, baiklah Kai kecilku ibu akan mengajarkanmu nanti saat kau besar” ucap Ha ra lalu menaruh semangkuk bubur di depannya

“apakah ayah tidak ikut makan belsama lagi?” Tanya Kai

“ayah masih banyak pekerjaan, kamu makan sama ibu saja ya” ucap Ha ra sambil mengelus rambutnya.

Ha ra berharap Sam tidak se-sibuk sekarang, Karena selama ini Sam selalu sibuk mencari nafkah untuk Ha ra dan Kai, sampai Sam membangkitkan ekonomi keluarga mereka lagi, tetapi akhir akhir ini Sam selalu di sibuki dengan pekerjaannya menjadi arsitek. Sehingga hanya ada sedikit waktu untuk berbicara dengan Ha ra dan Kai.

1 tahun kemudian.

Kai sudah berusia 4 tahun sekarang, ia mulai memasuki taman kanak-kanak, ia pun sudah mulai bisa menulis dan membaca, Kai anak yang cukup cerdas, ia juga sudah bisa mengucapkan huruf R. Hari ini adalah hari ulang tahun Kai, ia tak meminta untuk pestanya di rayakan, ia hanya meminta ber rekreasi ke Plantarium besar di seoul bersama Ha ra dan Sam, awalnya Sam tak bisa karena banyak pekerjaan namun setelah Ha ra membujuknya dengan susah payah, sam pun mau ikut berekreasi bersama Ha ra dan Kai. Akhirnya mereka berangkat ke Planetarium tersebut, selama di perjalanan Kai tak bisa diam, ia menanyakan banyak hal kepada orangtuanya

“Ibu, Ayah, apakah bintang itu sangat besar?” Tanya Kai

“Kai, bintang itu sangat besar dan jauh, kalau kita melihatnya pada malam hari ia akan terasa sagat kecil, karena letaknya yang jauh itu, kau bisa meihatnya nanti di Planetarium” jelas Sam kepadanya, Kai sangat senang, karena ayahnya mau berbicara kepadanya, selama ini Kai takut untuk bertanya kepada Ayahnya karena Sam selalu diam saat Kai bertanya kepadanya. Sam juga sangat menyukai bintang, sama seperti Kai.

“Oooh, begitu, Kai mengerti sekarang, lalu, apakah bintang itu bentuknya lancip-lancip seperti yang biasa ibu guru gambarkan di kertas gambar Kai?” tanyanya lagi

“tidak Kai bintang bentuknya bulat” ujar Ha ra

“bagaimana kalau kita piknik malam ayah? Kai ingin melihat bintang lebih jelas lagi secara nyata” ucap Kai meminta kepada ayahnya

“Tidak bisa Kai, ayah harus bekerja” ucap Sam sambil terus menyetir

“baiklah, tidak apa ayah, Kai sudah senang bisa berekreasi bersama ayah dan ibu” ujarnya sambil tertawa, Ha ra pun mengelus rambut cokelat Kai. sampailah mereka di planetrium, Kai tak henti-hentinya berlari kesana-kemari melihat bintang, planet, dan segala benda benda langit di sana, Kai terus bertanya kepada Guide. Sedangkan Ha ra terus mengawasi Kai, sedangkan Sam hanya sibuk dengan ponsel pintarnya itu. Tiba-tiba Sam menghapiri Ha ra dan Kai,

“Hara, Kai, sepertinya siang ini Ayah ada meeting, jadi aku harus segera ke kantor, kalian bisa pulang naik mobil, aku ke kantor naik taksi saja” ucap Sam sambil memeluk Ha ra dan mencium pipi anaknya itu, baru setengah jam mereka bersama tetapi Sam malah harus pergi demi pekerjaannya itu, Kai hanya bisa menghela nafas sambil memegang tangan ibunya dan melihat ayahnya pergi.

“ibu, bagaimana kalau kita pulang saja?” ucap Kai lemas

“tidak Kai, banyak yang kita belum lihat” ujar Ha ra sambil menyemangati anaknya

“baiklah ibu, kita berdua saja, nanti jika ayah sudah pulang aku akan menceritakan kejadian hari ini kepadanya “ ucap Kai, Ha ra pun mengangguk menyetujuinya dan langsung menggandeng Kai dan berjalan lagi memutari Planetarium.

Malam pun telah tiba, tapi Sam tak kunjung pulang, Kai telah menyelimuti tubuhnya dan bergegas untuk tidur, tiba-tiba pintu depan terbuka, Kai pun bergegas untuk mengintip dari pintu kamarnya, terlihat Sam telah berdiri di depan meja makan, sambil melepas kaos kaki nya, lalu Ha ra pun menghampirinya

“hari ini aku dan Kai sangat senang bisa mengunjungi Planetarium, sayangnya kita tidak bisa pergi bersama lebih lama lagi” ujar Ha ra

“ya, apalagi sekarang tugasku makin banyak, mulai sekarang aku sudah menjadi arsitek utama, aku bisa sajah tak pulang ke rumah, bahkan setiap hari aku harus bekerja, hari minggu mungkin saja aku harus bekerja juga” ujarnya, Kai mendengarnya dari balik pintu, ia sangat sedih mendengar bahwa ayah akan sangat sibuk, ia tak akan pernah pergi bersama ayahnya lagi.

“benarkah?” ujar Ha ra lirih

“ya yeobbo” balas Kai sambil mengelus rambut Ha ra

“apakah aku harus membangunkan Kai? Anak itu mau berbicara kepadamu” Tanya Ha ra seraya menghampiri pintu kamar Kai yang dekat dengan ruang makan

“tak usah, aku tak ingin melihat wajah kecewanya karena tadi aku meninggalkan kalian, biarkan saja ia tidur” ujar Sam lalu berjalan menuju kamarnya. Kai mundur selangkah dari belakang pintu, ia berfikiran bahwa ayahnya tidak ingin bertemu dengannya, ia sedikit sedih bahkan hampir saja menangis, namun ia ingat perkataan ibunya bahwa ayah sibuk karena ingin membahagiakan Kai kelak, karena itu adalah perkataan ibu yang bisa membuat Kai kuat tanpa ayah yang harus terus menemani Kai.

13 tahun kemudian.

Kai telah tumbuh dewasa, umurnya sudah menginjak 17 tahun, besok Kai akan mengikuti contest musik yaitu bernyanyi dan bermain alat musik, Ha ra sangat mendukung Kai untuk menjadi penyanyi, bahkan Kai mempunyai group band yang sudah ia bangun sejak ia duduk di kelas 3 SMP, tapi Sam tidak pernah setuju akan kemauan Kai untuk menjadi penyanyi.

“Bu, apakah besok ibu datang ke contest musikku?” Tanya Kai

“tentu Kai” ujar hara sambil mengaduk susu cokelat yang ada di depannya alu memberikannya kepada Kai

“aku senang kalau begitu, apakah ayah akan datang? “ Tanya kai lalu berkata “ tidak bu, aku tidak minum susu lagi, aku sudah dewasa sekarang” ujarnya sambil tersenyum

“hahaha Kai kau ini masih terlihat sama seperti Kai kecil kesayangan ibu” balas Ha ra sambil mencubit pipi anaknya yang mengaku sudah dewasa itu “nanti malam setelah ayah pulang ibu akan berbicara kepada ayah, semoga saja kau diizinkan untuk mengikuti contest itu dan semoga saja ayahmu bisa datang” ujarnya lagi.

“Baiklah bu, terimakasih bu” ucap Kai sambil mencium pipi ibunya.

“bu, sejak 13 tahun terakhir kita tak pernah rekreasi lagi ya bersama ayah,bahkan aku tidak pernah berbicara lagi dengannya” tiba-tiba perkataan itu keluar dari mulut kai, Ha ra langsung menengok kearah anaknya yang malang itu, kai hanya terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya seraya menyembunyikan wajahnya yang sedih

“apa kau merindukkan ayahmu?” Tanya Ha ra

“ya” jawabnya lirih

Ha Ra langsung memeluk Kai dan mengelus rambut cokelat tua nya itu dan berkata

“Kai, ayah belum punya waktu untuk bersama kita, ia terlalu sibuk mempersiapkan kejutan yang sangat besar untuk kita, ia tak ingin kita bersedih, ia ingin kita terus bahagia, ia juga tak ingin kita kembali ke masa krisis seperti dulu” jelasnya, Kai tahu semua yang di katakana ibu itu benar.

“Bu, aku tahu ibu benar, tetapi apakah aku bahagia bila seperti ini?  Aku tak merasakan kebahagian sama sekali bu, d.o dan sehun sering sekali menghabiskan waktu bersama ayahnya pada akhir pekan, pergi memancing, menonton konser Jazz, dan olahraga bersama, sebenarnya aku iri bu” ucap Kai jujur, air matanya menetes perlahan membasahi pipinya

“saat kelulusan, bagi raport bahkan saat acara parenting di sekolahku ayah tak pernah datang” sambungnya lagi

“kamu masih punya ibu yang selalu ada di sisimu Kai, kamu tak usah khawatir, tapi ayahmu akan selalu ada di hatimu Kai, kau tak akan merasa kesepian lagi, oke?” ucap Ha ra, perasaan hara, kesedihan hara sama seperti yang kai rasakan.

“Kai, hari ini ayah pulang ke rumah, ibu akan beri tahu ayah bahwa kau akan mengikuti contest music besok” ujarnya

“Baik bu, terimakasih, besok adalah penentu cita-cita ku bu, menjadi penyanyi adalah impianku” ujar Kai, Ibu melepaskan pelukannya dari tubuh kai, lalu mengelus rambut anaknya

“ya Kai” ujarnya di sertai dengan anggukan.

Waktu menunjukan pukul 2:30 am. Kai masih menunggu Ayahnya di balkon tempat ia biasa bersantai, sambil melihat langit malam dan memandang bintang-bintang di langit. Sudah 3 jam lebih ia menunggu, tapi ayahnya tak kunjung datang, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan mencoba berjalan menuju kamarnya dengan keadaan setengah mengantuk   Hara menghampirinya dan berkata

“Kai, biarkan ibu saja yang menunggu ayah, nanti ibu akan bilang kepada ayahmu tentang contest itu, kau tidur saja, nanti pagi kan kau sudah harus berangkat ke studio” ujar Hara, kai hanya mengangguk dan langsung memasuki kamarnya selang waaktu 10 menit kemudian seseorang masuk ke rumah dari pintu depan, Hara segera berlari menghampiri ayah kai yang baru sampai di rumah, dan mengantarkan teh hangat kepadanya

“bagaimana hari ini?” Tanya Hara kepada suaminya, Sam.

“seperti biasa, aku selalu di hantui pekerjaan” ujarnya sambil menyedu teh hangat

“ada yang ingin aku bicarakan” ujar hara sambil menatap Sam serius

“tentang apa? Apakah anak itu meminta gitar baru? Aku sudah bilang, kalu tentang dia yang berhubungan dengan musik, aku tak setuju” ujar Sam sambil menaruh secangkir teh nya, tiba-tiba pintu kamar kai terbuka, kai keluar menghampiri Ayahnya

“Ayah, aku hanya ingin bilang, besok aku akan mengikuti contest music nasional, aku hanya ingin meminta izin darimu, karena kau adalah ayahku” ujar kai lirih

“kalau begitu aku tak akan mengizinkanmu” tegasnya

“mengapa? Ayah menjadi seorang musisi adalah impianku” balas kai

“Ayah tak peduli, kau tak boleh ikut contest itu!” ujarnya dengan nada tinggi sambil berjalan ke kamar kai dan membanting gitar miliknya yang tergantung di tembok kamar kai

“TAK ADA LAGI BERNYANYI BERMUSIK DAN SEBAGAINYA! AKU MAU KAU MENJADI ANAK PINTAR” Bentaknya. Kai mengeluarkan air matanya, air mata kai jatuh perlahan, bibirnya merah karena digigitnya untuk menahan tangis, impian Kai kini hanya tinggal angan, usahanya kini terbuang sia-sia, Hara memeluk kai dengan erat, Hara tak bisa berbuat apa-apa karena ia tau mungkin Sam punya rencana yang lebih baik.

5 tahun kemudian..

Umur Kai sekarang tepat 22 tahun, sekarang kegiatanya adalah sebagai ahli teknologi muda di universitas korea ternama, sejak peristiwa 5 tahun yang lalu, Kai menjadi lebih pendiam, dia masih membayangkan soal mimpinya yang kandas itu, bila setiap weekend dia hanya menghabiskan waktu bersama laptopnya. Suatu hari ia di tawarkan untuk ikut Wajib Militer, sebenarnya kai tidak wajib mengikuti wajib militer pasalnya ia anak tunggal, tapi dari kecil kai suka bermain perang-perangan, dan ia tertarik sekali ikut wajib militer, Ayahnya juga memaksanya untuk wajib militer, pasalnya umur kai sudah 22 tahun, dan Ayahnya ingin kai menjadi anak yang kuat

“Bu, aku akan mengikuti wajib militer besok”ujar kai sambil mengpak barang bawaanya

“cepat sekali waktu berlalu, sekarang kau sudah tumbuh dewasa” ucap Hara sambil menghampiri Kai dan membantunya mengepakki barangnya

“bu, ayah yang meminta ini, kau tau bu sejak lahir aku telah menjadi anak ciptaan ayah, aku tidak bebas, aku senang dia peduli kepadaku, tapi bukan seperti ini, mungkin bila aku ikut wajib militer ayah akan berubah” ujar kai,”aku akan membuat sebuah daftar, daftar yang harus aku selesaikan setelah aku wajib militer” sambungnya, Hara mengerti perasaan kai selama ini, selama ini Ayahnya hanya melarangnya melakukan hal-hal yang ia sukai, Kai tak pernah mendapatkan hiburan, kasih sayang, waktu dari ayahnya. “Kai semoga setelah kau ikut wajib militer kau bisa menjadi anak yang lebih kuat dari sebelumnya, ibu juga berharap semoga ayahmu  berubah” ujar Hara seraya bangun dari tempat duduknya.

*Another Side*

Sam menaruh pena nya di meja kantornya, membaca secarik surat dari kai, ia termenung sejenak, ia tahu bahwa kai tak akan pernah mengirimnya sms karena memang Sam tak pernah memberikan nomor telponnya kepada Kai.

Tiba-tiba air mata Sam terjatuh membaca surat anaknya itu

“To: Appa

Apakabarmu ayah? Kau tak pernah pulang dari bangunan besar itu, wajahmu juga tak pernah terlihat oleh mataku akhir-akhir ini, kau sangat sibuk? Ya aku tahu kau sangat sibuk ayah. Aku hanya ingin bilang, bahwa besok aku akan mengikuti Wajib Militer, sesuai permintaanmu ‘lebih baik kau ikut wajib militer daripada harus menempuh cita-citamu menjadi musisi itu’ aku masih ingat perkataanmu jelas, aku tak tahu apa yang ada di fikiranmu ayah, kau berbeda dari Ayah lain, kau tak pernah setuju dengan usulanku, tak pernah mengizinkanku melakukan hal yang ku suka, kau tahu ayah? Sewaktu kau bilang ‘Kai kau tak boleh main diluar salju itu jahat, kau bisa sakit, kau mau menyusahkan ayah dan ibumu?’ pada saat itu aku berumur 8 tahun dan aku sangat suka bermain salju, tapi kau melarangku. Ternyata kau benar ayah, pada saat itu 3 anak di temukan tewas karena badai salju. Mulai dari itu aku sadar bahwa ketegasan mu, semua tindakan yang kamu lakukan, hanya untuk melindungiku dan ibu, tapi kau tahu? Aku masih meragukan kebahagiaanku, kau tahu? Aku meragukan kebahagiaanmu juga, bila kau jauh dari aku dan ibu, apa bisa kau bahagia?

Ayah setiap anak pasti membutuhkan ayahnya, bolehkah aku meminta wakumu sedikit? Maukah kau datang ke stasiun kereta api besok?  Aku ingin melihat wajahmu terakhir kalinya, aku takut bila selesai wajib militer aku sudah tidak ada di dunia ini. Jangan lupa datang, besok jam 08:00 am

Dari : Kai

Keesokan Harinya, di Stasiun

Kai sudah siap dengan ransel besar yang berada di punggungnya “Bu, kau cukup antarkan aku sampai ke stasiun ini, apakah ayah tak akan kesini ?” Tanya kai, suaranya beradu dengan suara kereta api di sekelilingnya

“Ayah akan kesini, ia bilang ia mau mengantarmu, ia sudah menerima surat darimu kai” ucap ibu sambil tersenyum ke arah kai, kai pun tersenyum sejenak, tiba-tiba kereta yang akan di naiki kai sudah sampai, tetapi Sam belom datang juga

“bu, dimana ayah? Bisakah kau meneleponnya?” Tanya kai, kakinya tak bisa diam berjalan mondar-mandir

Hara berusaha menghubungi Sam, tapi nomor Sam tidak aktif

“Bu, aku ingin melihat wajah ayah, aku ingin bertemu ayah, aku takut ini yang terakhir kalinya” ujar kai, kai pun menitikkan air mata

“Jangan bilang begitu kai!” ujar hara lalu memeluk kai, tiba-tiba alarm berbunyi, tanda kereta mau jalan, kai langsung berlari menuju pintu kereta, ia langsung duduk di tempatnya, ia menoleh ke jendela, tetapi Ayah belom juga datang, ia tau bahwa ayahnya itu taakan datang. Tapi tiba tiba

“KAI!! KAI!! “ suara keras seorang lelaki membangunkan kai dari lamunannya, ia langsung menengok ke arah jendel, ternyata itu adalah Ayahnya, Kai melambaikan tangan kepada ibu dan ayahnya, sesekali mengeluarkan air mata, kereta pun mulai berjalan

“KAI SAMPAI BERTEMU 2 TAHUN LAGI” Teriak ayahnya, ia melihat ayahnya mengeluarkan air mata, kai senang ayahnya datang untuk mengantar Kai.

DORR DORR DORR DORR DORR kai berlari mencoba untuk berlindung sambil membawa secari kertas yang sedari tadi ia genggam, menurutnya kertas itu adalah penyemangatnya. Ia berlari berlindung ke tempat yang tak bisa di jangkau oleh tentara Korea Utara, akhirnya kai sampai di dekat pohon ia menatap kertas yang di pegangnya itu, foto ia dan ayah ibunya, ia terus menggengam foto itu sesekali menangis

“Aku harus hidup, aku harus selamat, aku tak ingin mati di sini, tuhan” ucapnya sambil menangis

DORRR tiba-tiba seseorang menembak tepat di kepala Kai…. Semua terasa gelap sampai akhirnya kai menutup matanya.

Terlihat tulisan di balik foto yang di genggamnya, yang bertuliskan

“Hal yang harus ku lakukan bersama ayah

-Memancing bersama Ayah

-Berkemah bersama ayah

-Berkunjung ke planetarium bersama ayah

-Menonton conser music bersama ayah

Ayah, Ibu, aku sangat mencintai kalian”

Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it
I just wanna make you proud
I’m never gonna be good enough for you
Can’t pretend that
I’m alright
And you can’t change me

‘Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect

-THE END-

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Dont worry my boy

  1. Hello say! 😉
    Yuk kunjungi blogku https://dianajengaura.wordpress.com/
    Masih sepi (╯3╰) There many tutorial and stock of edit.
    Disana kalian juga boleh request loh. Request poster, wallpaper, cover FF, header, wallpaper. Nanti sekiranya kalau banyak yang request, aku bakal CARI 3 ARTWORKER.

    Kalau mau visitback, mention aja dikolom komentar 😉
    Tysm ❦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s